Perekonomian Indonesia | Just another Esa Unggul Weblog site

Bahan Presentasi Semester Genap

BAHAN PRESENTASI Pak Erman Munzir :

  1. Perekonomian indonesia pertemuan 1
  2. Perekonomian indonesia pertemuan 2
  3. Perekonomian indonesia pertemuan 3
  4. Perekonomian indonesia pertemuan 4
  5. Perekonomian indonesia pertemuan 5
  6. Perekonomian indonesia pertemuan 6
  7. Perekonomian Indonesia Pertemuan 7
  8. Perekonomian Indonesia Pertemuan 9-15 Membahas APBN 2015 dan RAPBN – P 2015
  9. NK RAPBN 2015
  10. NK RAPBN-P 2015

 

LAMPIRAN

  1. URUTAN KULIAH-1
  2. Lamp. 1-KENAPA EKONOMI ADA
  3. Lamp. 1a-KENAPA EKONOMI ADA-skema
  4. Lamp. 2-THE CIRCULAR FLOW OF AN ECONOMY
  5. Lamp. 3-PRODUCTION POSSIBILITY CURVE
  6. Lamp. 4-Neraca Pembayaran
  7. Lamp. 5-PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN
  8. Lamp. 7-Sitem Devisa dan Kurs (ex. MKI)

MODUL PEMBELAJARAN:

  1. Perekonomian Indonesia

Inflasi & Pengangguran

INFLASI DAN PENGANGGURAN

 

  1. A.       Inflasi
    1. 1.         Pengertian inflasi:

Inflasi adalah kenaikan dalam tingkat harga keseluruhan (general price level).

–       Inflasi dipandang sebagai penyakit dalam perekonomian jika inflasi yang terjadi berlangsung terus menerus dan nilainya tinggi—atau semakin meninggi atau tidak terkendali—hiperinflasi.

–       Secara umum, inflasi menyebabkan kemampuan daya beli (purchasing power) masyarakat menjadi berkurang. Oleh karena itu, inflasi juga dapat dipandang sebagai proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.

–       Tingkat harga merupakan opportunity cost bagi masyarakat dalam memegang aset finansial. Semakin tinggi perubahan harga, maka semakin tinggi pula opportunity cost dalam memegang aset finansial. Artinya masyarakat akan lebih beruntung jika memegang aset dalam bentuk riil dibandingkan dalam bentuk finansial, jika harga tetap tinggi.

–       Inflasi tidak selamanya berarti buruk, inflasi yang rendah dipandang baik bagi perekonomian karena dapat mendorong aktivitas perekonomian yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan nasional. Kondisi perekonomian dalam masa recovery dan boom ditandai dengan pertumbuhan uang beredar dan tingkat inflasi yang meninggi.

  1. 2.         Perhitungan Inflasi

Inflasi biasanya dihitung sebagai persentase perubahan tingkat harga sekelompok barang atau jasa (indeks harga) pada suatu periode tertentu (t0) dibandingkan tingkat harga periode sebelumnya (t-1). Indeks harga yang biasanya digunakan sebagai dasar perhitungan inflasi adalah:

  1. Indeks Harga Konsumen (IHK)—Consumer Price Index (CPI), adalah indeks tingkat harga rata-rata dari sekelompok barang/jasa yang dibeli sehari-hari oleh konsumen (barang/jasa tersebut mewakili pengeluaran belanja rutin rumah tangga dan diukur pada tingkat harga yang dibeli konsumen atau harga retail)
  2. Indeks Harga Produsen (IHP)—Producer Price Index (PPI), adalah indeks tingkat harga rata-rata dari sekelompok barang/jasa yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. Karena IHP diukur pada tingkat hulu (tingkat harga bahan baku), IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK dimasa depan (perubahan harga bahan baku akan mempengaruhi biaya produksi yang pada akhirnya akan mempengaruhi harga jual produk/jasa yang dibeli konsumen)
  3. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB)—Wholesale Price Index, adalah indeks harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas
  4. Deflator PDB—GDP Deflator, adalah indeks tingkat harga keseluruhan. Deflator PDB merupakan rasio antara PDB riil dengan PDB nominal pada satu tahun dikali dengan 100. eflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

 

IHK merupakan dasar perhitungan yang paling sering dijadikan acuan oleh karena IHK merupakan indeks yang berhubungan langsung dengan konsumen. Perhitungan inflasi dapat dilakukan dengan cara menghitung perubahan harga pada satu periode (harian, bulanan, tahunan) dibandingkan dengan periode sebelumnya, seperti rumus berikut:

Jika nilai yang dihasilkan adalah positif maka terjadi inflasi sedangkan jika negatif maka disebut deflasi yaitu suatu kondisi di mana perubahan tingkat harga (%D CPI) adalah negatif.

 

  1. 3.         Penyebab Inflasi
    1. Demand Pull Inflation

Inflasi yang disebabkan oleh kondisi di mana Aggregate Demand lebih besar dari pada Aggregate Supply.

Contoh: Menjelang perayaan keagamaan di Indonesia, misalnya lebaran, natal, dsb biasanya tingkat harga meningkat

  1. Cost Push Inflation

Inflasi yang disebabkan oleh kondisi di mana terjadi kenaikan harga faktor produksi seperti upah, biaya produksi dan bahan baku.

Contoh: Kenaikan harga minyak dunia akan mendorong inflasi dalam negeri

  1. Inertial Inflation

Inflasi yang terjadi karena meningkatnya secara bersamaan Aggregate Demand dan Aggregate Supply

Milton Friedman, seorang monetarist, mengatakan bahwa inflasi selalu merupakan fenomena moneter; pertumbuhan uanglah yang merupakan penyebab utama inflasi di dunia.

 

  1. 4.         Dampak Inflasi

Inflasi menyebabkan harga-harga barang meningkat sehingga akan menurunkan daya beli masyarakat. Tidak sebagaimana pajak yang dapat diatur pihak-pihak mana saja yang merupakan objek pajak, dampak inflasi akan dialami oleh semua golongan masyrakat—kaya miskin dan tua muda. Beberapa unsur didalam masyarakat yang paling merasakan dampak dari inflasi diantaranya adalah pemilik pendapatan tetap, penabung, debitur dan kreditur dan produsen.

  1. Pemilik pendapatan tetap

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan karena dengan pendapatan yang sama, jumlah barang yang dapat diperoleh akan semakin berkurang. Bahkan jika perusahaan tempat pekerja dengan gaji tetap tersebut menaikkan upah dengan prosentase kenaikan upah yg sama dengan laju inflasi maka secara riil pekerja tersebut tidak menjadi lebih baik. Pendapatannya sebelum dan sesudah kenaikan upah secara riil sama saja (karena kenaikan upah tidak mendorong peningkatan daya beli dalam kasus ini)

  1. Penabung

Inflasi juga berpengaruh kepada tabungan masyarakat. Hal ini disebabkan karena nilai tabungan masyarakat secara riil akan mengalami pengurangan pada situasi inflasi (pada saat inflasi tingkat harga mengalami kenaikan, walaupun tabungan memberikan bunga akan tetapi jika bunga yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan peningkatan harga, maka secara riil kemampuan dari tabungan-tabungan tersebut untuk membeli barang menurun—nilai riil tabungan turun). Kondisi ini akan menyebabkan keengganan masyarakat untuk menabung, sehingga jumlah tabungan masyarakat akan berkurang, yang pada akhirnya berdampak pada ketersediaan modal untuk investasi. Akibat lebih jauh akan mengurangi produktivitas dalam masyarakat.

  1. Debitur dan Kreditur

Bagi debitur, inflasi menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

  1. Produsen

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh (harga pokok penjualan) lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Akan tetapi, peningkatan pada harga jual produknya akan mengurangi permintaan atas produk dan pada akhirnya akan mengurangi keuntungan para produsen

 

  1. 5.         Cara Mengatasi Inflasi
    1. 1.        Kebijakan Moneter

Ketika laju inflasi dianggap tinggi, bank sentral dapat menggunakan kebijakan moneter untuk mengendalikan (pengetatan) jumlah uang beredar di masyarakat melalui:

–       Penetapan cadangan minimum

–       Operasi pasar terbuka

–       Fasilitas diskonto

  1. 2.        Kebijakan Fiskal

–       Efisiensi pengeluaran pemerintah yaitu dengan cara menunda pengeluaran yang bersifat temporer dan tidak mendesak

–       Menaikkan pajak baik dengan peningkatan tarif pajak (intensifikasi) ataupun dengan melakukan diversifikasi jenis pajak (ekstensifikasi)

  1. 3.        Kebijakan Riil

–       Meningkatkan jumlah produksi

–       Mengendalikan harga (contoh operasi pasar oleh bulog)

 

  1. B.       Pengangguran
    1. 1.         Pengertian pengangguran

adalah orang yang tidak dipekerjakan (unemployed), tapi sedang mencari pekerjaan atau sedang menunggu untuk dipekerjakan.

  1. 2.         Jenis-jenis penangguran
    1. A.       Frictional Unemployment

Mereka yang tidak bekerja karena pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain atau dari satu tempat ke tempat lain.

Pencatatan atau sensus dilaksanakan setiap periode tertentu, pada saat pencatatan seringkali seseorang sedang menunggu pekerjaan baru atau sedang pindah dari satu tempat ke tempat lainnya pada saat pencatan (sensus) dilakukan.

  1. B.       Structural Unemployment

Mereka yang tidak bekerja karena permintaan lebih rendah dari penwaran baik untuk satu jenis pekerjaan maupun pada sektor – sektor tertentu.

Dalam pasar tenaga kerja sering terjadi adanya excess supply dan excess demand, baik pada satu jenis pekerjaan maupun pada sektor-sektor tertentu.

Excess Supply adalah suatu kondisi di mana terdapat kelebihan penawaran tenaga kerja dibandingkan dengan permintaan terhadap tenaga kerja, jenis pekerjaan seperti ini biasanya pekerjaan yang tidak memerlukan sutu keahlian atau spesifikasi. Sedangkan Excess Demand adalah suatu kondisi di mana permintaan terhadap  tenaga kerja lebih besar dari penawarn tenaga kerja pada tingkat upah yang berlaku dipasar. Jenis pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, atau pekerjaan yang mengandung resiko tinggi. Seperti penjaga kubur.

Gaji yang lebih tinggi akan menimbulkan terjadinya excess supply atau kelebihan penawaran tenaga kerja (S) dibanding permintaan tenaga kerja dari perusahaan (D) demikian sebaliknya pada kondisi gaji rendah sering terjadi excess demand dalam pasar tenaga kerja

  1. C.       Cyclical Unemployment

Mereka yang tidak bekerja karena resesi ekonomi sehingga terjadi penurunan kegiatan produksi. Kondisi resesi pada suatu negara sangat mempengaruhi jumlah pengangguran jenis ini. Hal ini disebabkan karena pada saat resesi ekonomi terjadi penurunan tingkat produksi barang/jasa mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah tenaga kerja (PHK pada berbagai persahaan atau sektor-sektor tertentu.Unemployment jenis ini banyak terjadi pada saat terjadinya krisi moneter pada tahun 1998 hal ini disebabkan karena banyaknya perusahaan yang gulung tikar akibat tingginya biaya bahan baku terutama bahan baku impor. Karena merosotnya nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing.

 

 

Studi Kasus : Bank Indonesia

Bagaimana Bekerjanya Kebijakan Moneter?

Tujuan akhir kebijakan moneter adalah menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang salah satunya tercermin dari tingkat inflasi yang rendah dan stabil.  Untuk mencapai tujuan itu Bank Indonesia menetapkan suku bunga kebijakan BI Rate sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi.  Namun jalur atau transmisi dari keputusan BI rate sampai dengan pencapaian sasaran inflasi tersebut sangat kompleks dan memerlukan waktu (time lag).

Mekanisme bekerjanya perubahan BI Rate sampai mempengaruhi inflasi tersebut sering disebut sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter.  Mekanisme ini menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi berbagai variable ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta sektor riil. Perubahan BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi.

Pada jalur suku bunga, perubahan BI Rate mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan.  Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan, Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui penurunan suku bunga untuk mendorong aktifitas ekonomi.  Penurunan suku bunga BI Rate menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat.  Penurunan suku bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi.  Ini semua akan meningkatkan aktifitas konsumsi dan investasi sehingga aktifitas perekonomian semakin bergairah.  Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mengalami kenaikan, Bank Indonesia merespon dengan menaikkan suku bunga BI Rate untuk mengerem aktifitas perekonomian yang terlalu cepat sehingga mengurangi tekanan inflasi.

Perubahan suku bunga BI Rate juga dapat mempengaruhi nilai tukar.  Mekanisme ini sering disebut jalur nilai tukar.  Kenaikan BI Rate, sebagai contoh, akan mendorong kenaikan selisih antara suku bunga di Indonesia dengan suku bunga luar negeri.  Dengan melebarnya selisih suku bunga tersebut mendorong investor asing untuk menanamkan modal ke dalam instrument-instrumen keuangan di Indonesia seperti SBI karena mereka akan mendapatkan tingkat  pengembalian yang lebih tinggi.  Aliran modal masuk asing ini pada gilirannya akan mendorong apresiasi nilai tukar Rupiah. Apresiasi Rupiah mengakibatkan harga barang impor lebih murah dan barang ekspor kita di luar negeri menjadi lebih mahal atau kurang kompetitif sehingga akan mendorong impor dan mengurangi ekspor.  Turunnya net ekspor ini akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan perekonomian.

Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi perekonomian makro melalui perubahan harga aset.  Kenaikan suku bunga akan menurunkan harga aset seperti saham dan obligasi sehingga mengurangi kekayaan individu dan perusahaan yang pada gilirannya mengurangi kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti konsumsi dan investasi.

Dampak perubahan suku bunga kepada kegiatan ekonomi juga mempengaruhi ekspektasi publik akan inflasi (jalur ekspektasi).  Penurunan suku bunga yang diperkirakan akan mendorong aktifitas ekonomi dan pada akhirnya inflasi mendorong pekerja untuk mengantisipasi kenaikan inflasi dengan meminta upah yang lebih tinggi.  Upah ini pada akhirnya akan dibebankan oleh produsen kepada konsumen melalui kenaikan harga.

Mekanisme transmisi kebijakan moneter ini bekerja memerlukan waktu (time lag). Time lag masing-masing jalur bisa berbeda dengan yang lain. Jalur nilai tukar biasanya bekerja lebih cepat karena dampak perubahan suku bunga kepada nilai tukar bekerja sangat cepat. Kondisi sektor keuangan dan perbankan juga sangat berpengaruh pada kecepatan tarnsmisi kebijakan moneter. Apabila perbankan melihat risiko perekonomian cukup tinggi, respon perbankan terhadap penurunan suku bunga BI rate biasanya sangat lambat. Juga, apabila perbankan sedang melakukan konsolidasi untuk memperbaiki permodalan, penurunan suku bunga kredit dan meningkatnya permintaan kredit belum tentu direspon dengan menaikkan penyaluran kredit. Di sisi permintaan, penurunan suku bunga kredit perbankan juga belum tentu direspon oleh meningkatnya permintaan kredit dari masyarakat apabila prospek perekonomian sedang lesu.  Kesimpulannya, kondisi sektor keuangan, perbankan, dan kondisi  sektor riil sangat berperan dalam menentukan efektif atau tidaknya proses transmisi kebijakan moneter.

 

Kebijakan Moneter

Kebijakan Moneter

Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar

2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policu)

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :

1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.

2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.

3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.

4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

B. Arti Definisi / Pengertian Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)

Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih mekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah.

Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum.

Kebijakan Anggaran / Politik Anggaran :

1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.

2. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.

3. Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.

 

Kurva Transformasi

PRODUCTION POSSIBILITY CURVE OR FRONTIER

(PPC or PPF)

 

þ  Jadi PPC/PPF:

►     Menunjukkan alokasi faktor produksi di suatu negara/ perekonomian dengan kondisi teknologi yang mampu dimiliki, dengan ketersediaan faktor produksi yang terbatas atau bersifat scarcity.

Derivasi PPC atau PPF dari Edgeworth Box yang menunjukkan alokasi faktor produksi di suatu perekonomian/negara dan efisiensi alokasi (dengan 2 produk S dan T) dimana setiap peningkatan produksi S berarti penurunan produksi T atau apabila produksi S naik pasti mengakibatkan produksi T turun karena scarcity faktor produksi.

►     Merfleksikan jawaban atas tiga pertanyaan dalam rangka alokasi faktor produksi yaitu:

µ  Barang & jasa apa yang (akan) diproduksi — What to produce

µ  Bagaimana cara produksi dilakukan — How to produce

µ  Untuk siapa barang & jasa yang diproduksi itu — For whom to produce

þ  Jawaban terhadap tiga pertanyaan dalam rangka alokasi factor produksi dimaksud sangat ditentukan oleh rezim sistem ekonomi (the economic system) yang dianut di suatu negara/perekonomian.

 

 

PRODUKSI BARANG DAN JASA

DAN FUNGSI PRODUKSI

 

  1. Ekonomi atau perekonomian di setiap negara timbul karena ada manusia, yang dilahirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi,  untuk hidup butuh konsumsi barang dan jasa (B&J) dan oleh sebab itu mereka harus melakukan produksi B&J.
  2. Produksi setiap B&J dilakukan dengan penggunaan teknologi dan 4 faktor produksi (factors of production) yang tersedia di suatu negara.
    1. Faktor produksi terdiri dari :

þ R – yaitu Sumber Daya Alam (SDA — Natural Resources)

þ L – yaitu Sumber Daya Manusia (SDM —

Non Entrepreneurship Labors)

þ K –yaitu Modal (public and private physical Capitals)

þ E – yaitu Entrepreneurs.

  1. Fungsi produksi

Keempat faktor produksi tersebut diproses melalui suatu teknologi (A) tertentu menghasilkan suatu tingkat produk (Q).

Dalam bahasa matematik dan ekonomi mikro (microeconomics), terdapat fungsi produksi (production function) :

Q = A f(R,L,K,E) − A menyatakan the level of technologi, atau,

Q = A f(R,L,K) – disebut Four Wheels, dengan menggabungkan

E kedalam L karena semua adalah manusia

Bentuk fungsi produksi dapat berupa fungsi linear atau bentuk lainnya, misalnya berbentuk the Cobb-Douglass  function  Q = AertKaLb = A f(K,L) → tanpa faktor R, karena nilai tambah (value added) dari R akan ditentukan oleh faktor K dan L dan teknologi.

  1. Fungsi produksi dan isoquant

Dalam ekonomi mikro, fungsi produksi dengan 2 variabel bebas (independent variables) Q = A f(K,L) dinyatakan oleh Isoquant – yaitu locus atau kurva tempat semua kombinasi K dan L atau teknologi yang menghasilkan tingkat produk Q yang sama, misal Q0. The slope of Isoquant = -DK/DL = MPL/MPK (MPL = Marginal Product of L, MPK = Marginal Product of K).

  1. Isocost

Biaya produksi setiap level produk Q dinyatakan oleh sejumlah Isocosts. The slope of Isocost = -DK/DL = PL/PK, dimana PK = harga faktor K = r (rental) dan PL = harga faktor L = w (wage).

  1. Optimisasi produsen : tangent antara isoquant dan isocost

Produsen optimisasi (the optimization of any producer) terjadi pada persinggungan Isoquant yang akan diproduksi dengan Isocot, sehingga  -DK/DL = MPL/MPK = PL/PK atau the slope of isoquant = the slope of isocost, yang berarti rasio produktivitas L dan K = rasio harga L dan K.

 

Sistem Ekonomi

dan

Alokasi Faktor Produksi

 

  1. Bagi setiap negara, timbul pertanyaan tentang alokasi penggunaan atau pemanfaatan semua factor produksi, yang meliputi 3 pertanyaan alokasi factor produksi :

1).     Jumlah dan jenis produk yang akan diproduksi – what to produce

2).     Bagiamana produksi dilakukan – how to produce

3).     Untuk siapa produk diproduksi – for whom to produce

Jawaban terhadap ketiga pertanyaan tentang alokasi factor produksi sangat tergantung pada sistem ekonomi yang berlaku di suatu negara.

  1. Terdapat 4 sistem ekonomi seperti dikemukakan dalam chapter 2 buku Global Marketing[1] (serta juga lihat buku Economics for Today’ World[2] chapter 29):

 

Resource

Ownership

Resource

Allocation

MARKET

CENTRALLY PLAN

Private

MARKET CAPITALISM

CENTRALLY PLANNED

CAPITALISM

State

(Government)

MARKET

SOCIALISM

CENTRALLY PLANNED

SOCIALISM

 

 

1).     Market capitalism is an economic system in which individuals and firms allocate resources and production resources are privately owned. Simply put, consumers decide what goods they desire and firms determine what and how much to produce, the roel of the state is to promote competition among firms and ensure consumer protection.

Market capitalism is widely practiced around the world, most notably in North America and Western Europe.

However, as Paul Krugman has remarked that the United Staes is distinguished by its competitive, “wild free-for-all” and decentralized initiative. By contrast, Japan is also referred as “Japan Inc.” by which the Japan label can be interpreted in different ways, but it basically refers to a tightly run, highly regulated economic system that is also market oriented. How about France? William Greider has observed that the authorian state capitalism practiced in Singapore deprives the nation’s citizens of free speech, a free press, and free assembly. Hence, some aspects of “free economies” bear more than a passing resemblance to command-style economic systems.

Jadi pada sistem ekonomi kapitalisme pasar, semua keputusan individu konsumen dan produsen didasarkan atas pasar sepenuhnya, berarti pada dasarnya tanpa peranan dan komando serta intervensi pemerintah melalui perencanaan dan pengaturan. Dengan demikian alokasi factor produksi yang dimiliki oleh individu dan digunakan oleh perusahaan atau produsen sepenuhnya didasarkan atas permintaan dan penawaran pasar (market supply and demand).

Market capitalism disertai dengan keberadaan sistem demokrasi penuh di bidang politik, desentralisasi penuh antar pemerintah pusat dengan pemerintah daerah atau negara bagian, kebebasan pers, transparansi dan control oleh masyarakat, perencanaan terbatas untuk pelaksanaan administrasi saja.

2).     Centrally-planned socialism is the opposite end of the economic system from market capitalism in which system the state or government has broad powers to serve the public interest as it sees fit. Hence :

þ  State or government planners make “top down” or command decisions about what goods and services are produced in what quantities.

þ  Consumers can spend their money on what is available.

þ  Government ownership of entire industries as well as individual enterprises is characteristics of centrally- planned socialism.

Jadi negara dengan centrally planned socialism mempunyai ciri :

þ  Komando pemerintahan dan negara serta perencanaan di seluruh negeri untuk alokasi factor produksi atau produksi barang dan jasa.

Dengan demikian hak individu dan perusahaan diambil alih pemerintahan dan negara serta semua diatur dan ditentukan oleh pemerintahan dan negara demi sama rata sama rasa.

þ  Ideologi didasarkan atas komunisme atau sosialisme ideology kiri.

þ  Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau negara bagian dalam bentuk sentralisasi.

þ  Tidak ada kebebasan pers.

Contoh, India (atas dasar swadesi), negara komnis China (sebelum reformasi dan liberalisasi ekonomi, walaupun sistem politik masih bercirikan komando atas dasar ideologi komunisme), negara komunis Rusia dulu sebelum pecah, Kuba.

Dalam decade terakhir prinsip komando di bidang ekonomi telah ditinggalkan oleh banyak negara komunis dan sosialis, dengan melakukan liberalisasi ekonomi.

3).     Centrally-planned capitalism is an economic system in which command resource allocation is utilized extensively in an environment of private resource ownership.

Sistem ekonomi ini biasanya merupakan ciri a mixed economy.  Sebagai catatan, dalam kenyataan, bentuk murni market capitalism dan centrally-planned socialism tidak ada.  

Jadi pada a mixed economy, to a greater or lesser degree, command and market resource allocation are practiced simulataneously, as are private and state resource ownership. Dengan kata lain, pada a mixed economy terdapat campuran karakteristik dari market capitalism dan centrally-planned socialism, tapi lebih banyak ciri market capitalism.

Contoh, Swedia dimana 2/3 dari semua pengeluaran dikontrol oleh pemerintah, resource allocation is more “command” oriented than “market” oriented. Demikian pula pola di Jepang. Indonesia sejak Orde Baru hingga sekarang juga demikian.

4).     Market socialism is an economic system in which sstem market allocation policies are permitted within an overall environment of state ownership.

Dalam market socialism economy mempunyai ciri liberalisasi, tetapi aspek politik dan lainnya tetap sosialis atau komunis.

Contoh, China– it has given considerable freedom to business and individuals in the Guangdon Providence to operate within a market system. Today, China’s private sector accounts for more than 75 percent of national output. Even so, state enterprises still receive more than 2/3 of the credit available from the country’s banks.

In the late 1980s and early 1990s, Mikahil Gorbachev tried to preserve socialist principles in the USSR while pursuing a policy of gradual economic reform known as perestroika. Ultimately, however, Gorbachev was unable to reconcile the conflicting demands of Communist hard-liners with those of an increasingly discontented, democracy-minded population. His failure to establish a system of “capitalism with a human face” contributed to the dissolution of the Soviet Union.


[1] Keegan, Warren J., and, Green Mark C., Global Marketing, Prentice Hall-Pearson Education International, Third Edition, 2003.

[2]  Tucker, Irvin B., Economics for Today’s World, Thomson South-Western, Fifth Edition, 2008.

Modul IC

PRODUCTION POSSIBILITY CURVE OR FRONTIER

(PPC or PPF)

 

þ  Jadi PPC/PPF:

►     Menunjukkan alokasi faktor produksi di suatu negara/ perekonomian dengan kondisi teknologi yang mampu dimiliki, dengan ketersediaan faktor produksi yang terbatas atau bersifat scarcity.

Derivasi PPC atau PPF dari Edgeworth Box yang menunjukkan alokasi faktor produksi di suatu perekonomian/negara dan efisiensi alokasi (dengan 2 produk S dan T) dimana setiap peningkatan produksi S berarti penurunan produksi T atau apabila produksi S naik pasti mengakibatkan produksi T turun karena scarcity faktor produksi.

►     Merfleksikan jawaban atas tiga pertanyaan dalam rangka alokasi faktor produksi yaitu:

µ  Barang & jasa apa yang (akan) diproduksi — What to produce

µ  Bagaimana cara produksi dilakukan — How to produce

µ  Untuk siapa barang & jasa yang diproduksi itu — For whom to produce

þ  Jawaban terhadap tiga pertanyaan dalam rangka alokasi factor produksi dimaksud sangat ditentukan oleh rezim sistem ekonomi (the economic system) yang dianut di suatu negara/perekonomian.

 

 

PRODUKSI BARANG DAN JASA

DAN FUNGSI PRODUKSI

 

  1. Ekonomi atau perekonomian di setiap negara timbul karena ada manusia, yang dilahirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi,  untuk hidup butuh konsumsi barang dan jasa (B&J) dan oleh sebab itu mereka harus melakukan produksi B&J.
  2. Produksi setiap B&J dilakukan dengan penggunaan teknologi dan 4 faktor produksi (factors of production) yang tersedia di suatu negara.
    1. Faktor produksi terdiri dari :

þ R – yaitu Sumber Daya Alam (SDA — Natural Resources)

þ L – yaitu Sumber Daya Manusia (SDM —

Non Entrepreneurship Labors)

þ K –yaitu Modal (public and private physical Capitals)

þ E – yaitu Entrepreneurs.

  1. Fungsi produksi

Keempat faktor produksi tersebut diproses melalui suatu teknologi (A) tertentu menghasilkan suatu tingkat produk (Q).

Dalam bahasa matematik dan ekonomi mikro (microeconomics), terdapat fungsi produksi (production function) :

Q = A f(R,L,K,E) − A menyatakan the level of technologi, atau,

Q = A f(R,L,K) – disebut Four Wheels, dengan menggabungkan

E kedalam L karena semua adalah manusia

Bentuk fungsi produksi dapat berupa fungsi linear atau bentuk lainnya, misalnya berbentuk the Cobb-Douglass  function  Q = AertKaLb = A f(K,L) → tanpa faktor R, karena nilai tambah (value added) dari R akan ditentukan oleh faktor K dan L dan teknologi.

  1. Fungsi produksi dan isoquant

Dalam ekonomi mikro, fungsi produksi dengan 2 variabel bebas (independent variables) Q = A f(K,L) dinyatakan oleh Isoquant – yaitu locus atau kurva tempat semua kombinasi K dan L atau teknologi yang menghasilkan tingkat produk Q yang sama, misal Q0. The slope of Isoquant = -DK/DL = MPL/MPK (MPL = Marginal Product of L, MPK = Marginal Product of K).

  1. Isocost

Biaya produksi setiap level produk Q dinyatakan oleh sejumlah Isocosts. The slope of Isocost = -DK/DL = PL/PK, dimana PK = harga faktor K = r (rental) dan PL = harga faktor L = w (wage).

  1. Optimisasi produsen : tangent antara isoquant dan isocost

Produsen optimisasi (the optimization of any producer) terjadi pada persinggungan Isoquant yang akan diproduksi dengan Isocot, sehingga  -DK/DL = MPL/MPK = PL/PK atau the slope of isoquant = the slope of isocost, yang berarti rasio produktivitas L dan K = rasio harga L dan K.

 

Sistem Ekonomi

dan

Alokasi Faktor Produksi

 

  1. Bagi setiap negara, timbul pertanyaan tentang alokasi penggunaan atau pemanfaatan semua factor produksi, yang meliputi 3 pertanyaan alokasi factor produksi :

1).     Jumlah dan jenis produk yang akan diproduksi – what to produce

2).     Bagiamana produksi dilakukan – how to produce

3).     Untuk siapa produk diproduksi – for whom to produce

Jawaban terhadap ketiga pertanyaan tentang alokasi factor produksi sangat tergantung pada sistem ekonomi yang berlaku di suatu negara.

  1. Terdapat 4 sistem ekonomi seperti dikemukakan dalam chapter 2 buku Global Marketing[1] (serta juga lihat buku Economics for Today’ World[2] chapter 29):

 

Resource

Ownership

Resource

Allocation

MARKET

CENTRALLY PLAN

Private

MARKET CAPITALISM

CENTRALLY PLANNED

CAPITALISM

State

(Government)

MARKET

SOCIALISM

CENTRALLY PLANNED

SOCIALISM

 

 

1).     Market capitalism is an economic system in which individuals and firms allocate resources and production resources are privately owned. Simply put, consumers decide what goods they desire and firms determine what and how much to produce, the roel of the state is to promote competition among firms and ensure consumer protection.

Market capitalism is widely practiced around the world, most notably in North America and Western Europe.

However, as Paul Krugman has remarked that the United Staes is distinguished by its competitive, “wild free-for-all” and decentralized initiative. By contrast, Japan is also referred as “Japan Inc.” by which the Japan label can be interpreted in different ways, but it basically refers to a tightly run, highly regulated economic system that is also market oriented. How about France? William Greider has observed that the authorian state capitalism practiced in Singapore deprives the nation’s citizens of free speech, a free press, and free assembly. Hence, some aspects of “free economies” bear more than a passing resemblance to command-style economic systems.

Jadi pada sistem ekonomi kapitalisme pasar, semua keputusan individu konsumen dan produsen didasarkan atas pasar sepenuhnya, berarti pada dasarnya tanpa peranan dan komando serta intervensi pemerintah melalui perencanaan dan pengaturan. Dengan demikian alokasi factor produksi yang dimiliki oleh individu dan digunakan oleh perusahaan atau produsen sepenuhnya didasarkan atas permintaan dan penawaran pasar (market supply and demand).

Market capitalism disertai dengan keberadaan sistem demokrasi penuh di bidang politik, desentralisasi penuh antar pemerintah pusat dengan pemerintah daerah atau negara bagian, kebebasan pers, transparansi dan control oleh masyarakat, perencanaan terbatas untuk pelaksanaan administrasi saja.

2).     Centrally-planned socialism is the opposite end of the economic system from market capitalism in which system the state or government has broad powers to serve the public interest as it sees fit. Hence :

þ  State or government planners make “top down” or command decisions about what goods and services are produced in what quantities.

þ  Consumers can spend their money on what is available.

þ  Government ownership of entire industries as well as individual enterprises is characteristics of centrally- planned socialism.

Jadi negara dengan centrally planned socialism mempunyai ciri :

þ  Komando pemerintahan dan negara serta perencanaan di seluruh negeri untuk alokasi factor produksi atau produksi barang dan jasa.

Dengan demikian hak individu dan perusahaan diambil alih pemerintahan dan negara serta semua diatur dan ditentukan oleh pemerintahan dan negara demi sama rata sama rasa.

þ  Ideologi didasarkan atas komunisme atau sosialisme ideology kiri.

þ  Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau negara bagian dalam bentuk sentralisasi.

þ  Tidak ada kebebasan pers.

Contoh, India (atas dasar swadesi), negara komnis China (sebelum reformasi dan liberalisasi ekonomi, walaupun sistem politik masih bercirikan komando atas dasar ideologi komunisme), negara komunis Rusia dulu sebelum pecah, Kuba.

Dalam decade terakhir prinsip komando di bidang ekonomi telah ditinggalkan oleh banyak negara komunis dan sosialis, dengan melakukan liberalisasi ekonomi.

3).     Centrally-planned capitalism is an economic system in which command resource allocation is utilized extensively in an environment of private resource ownership.

Sistem ekonomi ini biasanya merupakan ciri a mixed economy.  Sebagai catatan, dalam kenyataan, bentuk murni market capitalism dan centrally-planned socialism tidak ada.  

Jadi pada a mixed economy, to a greater or lesser degree, command and market resource allocation are practiced simulataneously, as are private and state resource ownership. Dengan kata lain, pada a mixed economy terdapat campuran karakteristik dari market capitalism dan centrally-planned socialism, tapi lebih banyak ciri market capitalism.

Contoh, Swedia dimana 2/3 dari semua pengeluaran dikontrol oleh pemerintah, resource allocation is more “command” oriented than “market” oriented. Demikian pula pola di Jepang. Indonesia sejak Orde Baru hingga sekarang juga demikian.

4).     Market socialism is an economic system in which sstem market allocation policies are permitted within an overall environment of state ownership.

Dalam market socialism economy mempunyai ciri liberalisasi, tetapi aspek politik dan lainnya tetap sosialis atau komunis.

Contoh, China– it has given considerable freedom to business and individuals in the Guangdon Providence to operate within a market system. Today, China’s private sector accounts for more than 75 percent of national output. Even so, state enterprises still receive more than 2/3 of the credit available from the country’s banks.

In the late 1980s and early 1990s, Mikahil Gorbachev tried to preserve socialist principles in the USSR while pursuing a policy of gradual economic reform known as perestroika. Ultimately, however, Gorbachev was unable to reconcile the conflicting demands of Communist hard-liners with those of an increasingly discontented, democracy-minded population. His failure to establish a system of “capitalism with a human face” contributed to the dissolution of the Soviet Union.


[1] Keegan, Warren J., and, Green Mark C., Global Marketing, Prentice Hall-Pearson Education International, Third Edition, 2003.

[2]  Tucker, Irvin B., Economics for Today’s World, Thomson South-Western, Fifth Edition, 2008.

Modul IB

KENAPA EKONOMI ADA :  KARENA ADA MANUSIA

 

 

1 (SATU) MANUSIA — Robinson Crusoe

 

â

Harus hidup

â

                â                                                                               â

    Konsumsi (Konsumen)                                                         Produksi (Produsen)

4Permintaan Individu                                             4Penawaran Individu

    (Individual Demand – ID) :                                      (Individual Supply – IS) :

                   â                                                                                           â

    Teori Demand (Theory of Demand)                       Teori Produksi + Teori Biaya

    atau Teori Perilaku Konsumen (Theory                + Struktur Pasar dan Maximum

    of Consumer Behavior) melahirkan :                    Laba melahirkan :

ü  Fungsi Demand (ID) :                                        ü  Fungsi Supply (IS) :

          QD = f (P, PS, PC, I, τ, PE)                                       QS = f (P, PI, PR, T, PE)

ü  Fungsi Kurva D dan TLOD :                           ü  Fungsi Kurva S dan TLOS :                                     

         Ceteris Paribus  4  QD = f(P)                                 Ceteris Paribus  4  QS = f(P)       

4Punya 4 faktor produksi :                                      ü  Juga  QS = f (R, L, E, K)  4

    1.  SDA (R) – Sumber Daya Alam                              dengan L + E disatukan seba-

    2.  SDM (L) – Tenaga Kerja                                       gai L dan nilai tambah R dipe-

    3.  SDM (E) – Enterprenur                                         roleh karena f, L dan K, maka

    4.  Kapital (K) – Barang Modal                                 dalam ilmu ekonomi difokus-

4 Mampu menciptakan :                                               kan sebagai  QS = f (K, L)

    1.  Barang modal (K)                                                                       á        

    2.  Teknologi (f) atau proses produksi                                           á

         (ban berjalan)                                                                              á

                    á                                                                                       á

                                                                                                                                  

 SEMUA MANUSIA DI DUNIA DI SUATU NEGARA

 

                                                                 â                                           

                                                          Menciptakan

                                                                 â                                          

PASAR SETIAP BARANG/JASA

(MARKET OF ANY GOOD/SERVICES) :

  1. 1.    Punya Market Demand (MD) dan Market Supply
  2. 2.    Bekerja atas dasar TLOD dan TLOS – sehingga timbul mekanisme the Invisible Hand Mechanism
  3. 3.    Selalu berada dalam keseimbangan (equilibrium) D = S
  4. 4.    Ekuilibrium pasar selalu ber-pindah2

EKONOMI AGREGAT

  1. 1.    Demand Agregat (Aggregate Demand)

            — AD = C + I + G + (X − M)

  1. 2.    Supply Agregat (Aggregate Supply

                —  Y = f(K.L)  4 Y = AKαLβ

  1. 3.    Mempunyai tiga sektor : Riil, Tenaga Kerja, Keuangan
  2. 4.     

                                                         

 

Pengertian Ilmu Ekonomi

 

Economics is the study of how men choose to use scarce or limited productive resources (land, labour, capital goods, and technical knowledge) to produce various commodities and to distribute them to various members of society for their consumption” (Samuelson: 2000)

 

Sebab itu, terdapat kelangkaan (scarcity) faktor produksi, kebutuhan yang tidak terbatas, dan pilihan(choice) yang harus dilakukan

 

lmu Ekonomi Makro  vs Ilmu Ekonomi Mikro

 

  1. a.        Macroeconomics
  • Macroeconomics is concern with the behaviour of the economy as a whole, such as: the economy’s total output of goods and services. the growth of output, the rate of inflation and unemployment, the balance of payments, and exchange rates, booms, and recession (business cycles).
  • Macroeconomics focuses on the economic behaviour and policies that affect consumption and investment, the determinants of changes in wages and prices, monetary and fiscal policies, the money stock, the federal budget, interest rates and national debt”
  • In brief, macroeconomics deals with the major economic issues and problems of the day. Interactions among the goods, labour, and asset markets of the economy and in the interactions among national economies that trade with each other. (Dornbush: 2002)

 

  1. b.        Microeconomics
  • Microeconomics is the study of the economic behaviour of individual  decision making units (consumers, resources owners, and business firms) in a free enterprice system
  • Microeconomics is concerned with the behaviour of individual entities such as markets, firms and households.

 

I.                  ABSTARAKSI PEREKONOMIAN

 

 

 

FP                                                   FP

 

 

Y                                            Y

 

 

 

 

 

 

C ( EXPENDITURE)

 

TRADISIONIL  ECONOMY :

 

  1. 1.   PELAKU : PRODUSEN DAN KONSUMEN
  2. 2.   BARTER , BELUM ADA UANG
  3. 3.   IDENTITY :

                                   Y = C + S

                                   Y = C + I

                                   S = I

          SYARAT TERJADINYA ARUS PEREKONOMIAN

 

        4. SAVING BERUPA STOK BARANG

 

FIRM

PRODUCER

 

HOUSEHOLD

CONSUMER

RENT

WAGE/SALARY

INTEREST

NORMAL PROFIT

LAND

LABOR

CAPITAL

ENTERPRENEUR

Circlar flow p. 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. b.        Faktor-Faktor  Produksi dan Pelaku Ekonomi

 

Kegiatan perekonomian hanya dapat berjalan jika ada barang yang diperdagangkan dan ada pelaku perekonomian yang memperdagangkan barang dan jasa tersebut.

Dalam ilmu ekonomi makro kita kenal 4 (empat) faktor produksi yaitu : SDA, SDM, Modal, dan Keahlian, atau dalam persamaan dikenal dengan four wheels yaitu : Q = f (R, L, K, E) dengan tingkat  teknologi tertentu.

 

SDA atau natural resources adalah anugerah pemberian Tuhan seperti  tanah, air, udara dan segala isinya

SDM atau human resouces (labors) baik yang memiliki skill maupun yang tidak memiliki skill (skilled and unskilled  labours)

Modal atau capital resources seperti mesin, peralatan, dan banguan serta sarana lainnya yang digunakan untuk menghasilkan produksi

Keahlian atau kewirausahaan (entrepreneurship) adalah mereka yang mengombina-sikan ketiga faktor tersebut di atas (those people are a special category of human resources, who combine natural, human and capital resources to produce out put (goods and services).

 

Keempat faktor produksi tersebut yang membentuk produksi barang dan jasa.

Di dalam perekonomian modern, kita kenal empat kelompok pelaku perekonomian yaitu :

–      Perusahaan (Produsen)

–      Rumah Tangga (Konsumen)

–      Pemerintah (Government)

–      Kelompok Luar Negeri  (produsen, konsumen, pemerintah).

 

Dengan demikian ada empat faktor produksi dan ada empat pelaku ekonomi, keempat faktor produksi dan keempat pelaku ekonomi tersebut menciptakan tiga jenis pasar yaitu :

  • Pasar Barang /Jasa dan
  • Pasar Keuangan, dan
  • Pasar Tenaga Kerja

 

Secara umum gambaran tentang arus perekonomian dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Arus Faktor produksi dari rumah tangga ke perusahaan: arus tersebut berupa arus barang (SDA), arus tenaga kerja (labor), arus modal dan arus tenaga ahli
  • Arus imbalan dari perusahaan ke rumah tangga , berupa arus rent, upah/gaji, interest, dan normal profit)
  • Arus barang dan jasa
  • Arus uang berupa pembelian barang dan jasa

 

Kembali ke arus faktor produksi dan pelaku ekonomi, jika arus pelaku ekonomi hanya produsen dan konsumen dan yang terjadi adalah sistem barter maka disebut dengan perekonomian tradisional, sebaliknya jika arus perekonomian sudah melibatkan pemerintah maka disebut dengan perekonomian tertutup  sedangkan jika telah melibatkan luar negeri (transaksi perekonomian luar negeri) disebut dengan perekonomian terbuka.

 

Jumlah arus faktor produksi dari rumah tangga dan dan jumlah barang yang dihasilkan oleh produsen jika dihitung nilainya maka akan sama dengan jumlah yang diterima oleh konsumen dan jumlah pembelian yang diterima oleh produsen dari konsumen.

 

Nilai dari kedua jumlah arus tersebut disebut dengan Gross Domestik produk atau Gross National Produk

 

  1. c.         Tahap-tahap perekonomian

 

  1. Perekonomian Tradisional (Traditional Economy)

 

Pada awalnya kegiatan perekonomian hanya bersifat subsistence, transaksi perekonomian berlangsung secara barter, pelaku ekonomi hanya 2 yaitu, produsen dan konsumen,belum ada penggunaan uang sehingga transaksi harus memerlukan double coincidence of wants (keinginan yang sama).

Pendapatan hanya diperuntukkan untuk konsumsi, jika ada saving  bersifat barang (saving berupa stock barang). Sehingga persyaratan (identity) terjadinya transaksi adalah :

 

Y = C + S

Y = C + I

S = I  (syarat terjadi arus perekonomian)

 

  1. Perekonomian Tertutup (Closed Economy)

Perekonomian secara tradisional ternyata banyak sekali kelemahannya, terutama dalam hal transaksi perekonomian. Hal tersebut disebabkan karena perekonomian dilakukan secara barter dan belum adanya penggunaan unsur keuangan, oleh karena itu perekonomian berkembang menjadi perekonomian tertutup atau closed economy dengan ciri-ciri sebagai berikut:

ü  Pelaku ekonomi selain produsen dan konsumen juga terdapat unsur pemerintah yang memungut pajak (T), melakukan pengeluaran (G) seperti menyediakan infrastruktur serta mengeluarkan kebijakan/peraturan

ü  Sudah ada penggunaan unsur  uang (local currency)

ü  Persamaan identitas:

 

Y = C + S + T

Y = C + I + G

(S – I) = – (T – G) (syarat terjadi arus perekonomian)

S = I  =>  keseimbangan di sektor swasta (private sector)

T= G =>  keseimbangan di sektor  pemerintah (government sector)

 

  1. Perekonomian Terbuka (Open Economy)

Kegiatan perekonomian dalam closed ekonomi juga mengalami kekurangan oleh karena itu pada saat ini hampir seluruh negara menganut sistem perekonomian terbuka (open economy) dengan cirinya sebagai berikut:

 

ü  Pelaku ekonomi adalah : produsen, konsumen, dalam dan luar negeri, pemerintah dengan mitra dagang luar negeri.

ü  Terdapat transaksi luar negeri sehingga kurs dan cadangan devisa sangat penting dalam perekonomian.

ü  Selain arus terdapat arus barang/jasa ke luar negeri juga arus kapital ke dalam dan keluar negeri. (capital inflows dan capital out flows)

ü  Persamaan Identitas:

 

Y = C+ S + T

Y = C + I + G + (X – M) _

(X-M) = (S-I) + (T-G) (syarat terjadi arus perekonomian )

 

±∆K =  ±∆Kp + ±∆Kg

(X – M + ±∆K) = (S – I + ±∆Kp) + (T – G + ±∆Kg)